Harus Iya





Setiap orang punya keinginan. Setiap orang punya ekspektasi. Setiap orang punya tujuan. Namun, satu hal yang paling kubenci. Namanya ego. Jika ego adalah seorang manusia, mungkin aku sudah mencarinya, lalu memukulinya tanpa ampun.

Di hari yang cukup membosankan, kereta yang akan kutumpangi akhirnya tiba. Dengan agak berdesakan, aku masuk dan segera meraih pegangan yang menggantung di atas. Karena kereta masih belum kunjung bergerak, aku membuka kindle, membaca novel klasik yang baru kubaca semalam.

Badanku sedikit terhuyung ketika kereta akhirnya bergerak. Suara ban besi dan rel yang beradu terdengar rendah, mengisi padatnya penumpang. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang menatap ponselnya, ada yang memejamkan mata sambil menikmati suara yang diputar di earphone-nya. Ada juga sedikit orang yang membaca buku. Sisanya hanya melamun, entah memikirkan apa.

Saat aku sedang membaca di bagian epik cerita, tiba-tiba seseorang memecah imajinasiku. Seorang lelaki paruh baya berjas hitam tertawa lantang dengan ponsel di tangannya. Ia duduk di kursi dengan satu kaki menyilang, seolah seluruh gerbong hanyalah ruang tamu pribadinya. Dari jarak beberapa langkah, aku menatapnya tajam, memperhatikan detail dirinya yang terlihat seperti sosok orang kaya dengan penuh ego dan keangkuhan.

Namun pikiranku segera berubah saat kulihat seorang ibu hamil berdiri memegang perutnya. Di sebelahnya, orang-orang duduk bersandar seakan tak ingin tahu menahu, apalagi peduli. Mata mereka sibuk menatap layar, pura-pura tuli dan buta. Hingga keributan kecil terjadi saat aku menghampiri mereka.

“Adakah dari kalian yang punya hati dan mau memberi tempat duduk untuk ibu ini?”

Lelaki berjas hitam itu mendengus tanpa mengangkat wajahnya. “Heh, ribet banget, sih. Jangan sok ngatur, semua orang di sini juga bayar.”

Tanganku hampir refleks ingin membalasnya, tapi aku menahan diri. Hanya menatapnya dengan tatapan yang mungkin lebih menusuk daripada kata-kata. Suasana sempat hening, sebelum akhirnya seorang pria muda di kejauhan berdiri. Ia menepuk kursi, memberi isyarat pada si ibu. Dengan hati-hati, ibu itu melangkah dan duduk di ujung kursi.

Suasana kembali seperti sebelumnya. Orang-orang menunduk lagi ke layar ponsel, memasang earphone lebih rapat, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil di tengah perjalanan mereka.

Aku mendengus pelan, sedikit menahan senyum. Ternyata empati lebih mahal dari tiket kereta dan jas hitam lelaki angkuh itu.

Laju kereta mulai berkurang. Begitu pintu terbuka, orang-orang berdesakan merebut jalan. Aku hanya melangkah pelan di antara kerumunan yang menghimpit.

Akhirnya, aku bisa menghirup udara segar. Sambil berjalan menuju pintu keluar stasiun, aku memesan taksi online lewat ponsel. Tak butuh waktu lama, sebuah mobil sedan berhenti tepat di depanku. Kaca mobil terbuka perlahan.

"Atas nama Pak Fajar?"

"Iya pak," jawabku sambil sedikit membungkuk.

Suara senyap seketika begitu aku menutup pintu mobil. Aku duduk di kursi depan, karena aku suka melihat area depan kendaraan yang sedang melaju. Deru mesin mobil berdengung pelan, nyaris tak terdengar.

"Terimakasih, Pak," ucapku. Bapak sopir itu mengangguk senyum, lalu mobilnya perlahan menjauh, menghilang di tikungan.

Seperti biasa, jemariku sibuk mengetik cepat, mengerjakan tugas-tugas sembari memutar musik pelan di OWS yang kupakai.

Dalam ketenangan yang membosankan, terdengar langkah cepat yang mendekat. Rangga datang dengan wajah cemas. Ia membawa beberapa lembar kertas yang sudah bisa kutebak.

"Mas, boleh minta bantuan sebentar, nggak?"

"Laporan kemarin?" tanyaku datar.

Rangga mengangguk singkat. "Iya, Mas. Tolongin saya, saya cuma diberi waktu satu jam sama boss."

Tak butuh waktu lama, aku membantunya mempercepat penyusunan dokumen yang masih sedikit berantakan. Wajah tegang Rangga memudar begitu susunan laporan sudah siap.

"Wahh mantap, makasih ya, Mas!" ucap Rangga sambil jalan terburu-buru menuju ruangan Boss. Aku bahkan belum sempat berbicara.

Aku masih menatap layar, jari-jariku terus menekan keyboard. Kadang aku bertanya-tanya, apakah Rangga benar-benar butuh bantuan, atau hanya malas mengerjakannya? Tapi, mungkin lebih tepatnya ia tahu aku tak pernah tega menolak. Orang seperti Rangga biasanya hidup dari orang lain yang tak pernah bisa berkata tidak.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan wajah sumringah. “Mas, laporan saya dipuji sama Boss. Katanya rapi banget. Kalau bukan karena Mas, saya pasti sudah kena semprot.”

Aku menoleh sekilas. “Baguslah.”

Rangga tertawa kecil. “Mas Fajar memang selalu bisa diandalkan.” Ia menepuk bahuku dengan enteng, lalu pergi sambil bersiul riang. Anehnya, aku justru merasa kalimat itu terdengar seperti penjara. Bisa diandalkan. Kata yang tampak manis, tapi sebenarnya belenggu yang memaksa.

Aku menarik napas panjang. Orang seperti Rangga akan selalu ada. Orang yang hanya ingin enaknya, tak mau susahnya. Mereka akan datang dengan wajah cemas, tapi pergi dengan senyum puas tanpa menoleh sedikit pun pada rasa lelah orang lain.

Sore itu, setelah semua pekerjaan selesai aku memutuskan untuk mampir ke warung kopi langganan di dekat kantor. Tempat kecil di sudut jalan itu hampir selalu ramai. Saat aku masuk, kulihat temanku duduk dengan secangkir kopi di meja, melambaikan tangan.

“Wah, akhirnya ketemu juga. Duduk sini, Jar” katanya penuh semangat. Aku tak bisa menolak, meski tahu betul sifatnya yang selalu ada maunya.

Baru lima menit duduk, ia sudah mulai cerita panjang lebar. Tentang bisnis kecilnya yang “hampir sukses,” tentang orang-orang yang katanya iri padanya, tentang betapa kerasnya hidup. Lalu, ujung-ujungnya, seperti yang kuduga, ia mengeluarkan kalimat pamungkas dengan nada yang kalem sambil mengelus lututnya.

“Jadi gini, Jar, aku butuh bantuan kecil. Anggap aja balas budi. Dulu kan aku yang ngasih info loker ke kamu,”

Aku meneguk kopi dengan tenang, mendengarkan sambil menatap wajahnya yang penuh percaya diri. Balas budi. Kata itu meluncur ringan, tapi terasa berat. Seolah kebaikan yang pernah ia lakukan berubah jadi pisau yang sekarang menempel di leherku.

"Kamu ada 10 juta, nggak?"

Aku menahan gelas kopi di udara, berpikir sejenak lalu meletakkannya di atas meja. "Sorry, bos, Bukan aku nggak mau, duit segitu terlalu besar buatku, apalagi sekarang aku lagi banyak tanggungan. Jadi, aku nggak bisa bantu."

Seperti yang sudah kuduga, raut wajah Arman menunjukkan rasa tidak setuju. Ia mengira bahwa aku akan selalu mengiyakan apapun yang ia minta.

"Kok kamu jadi kayak gitu, sih? Udah lupa ya sama perjuangan orang lain?"

Aku hanya menggeleng pelan, tetap menahan dan tenang. Sementara Arman masih terus berbicara, mengungkit segala hal yang ia ingat. Tak tahan dengan omelannya, aku segera memotong.

"Aku bisa bantu, tapi cuma setengahnya. Gimana?"

Arman mendengus, "Ah, nggak usah, lah! Aku juga udah nggak butuh!"

Ia seketika berdiri, meninggalkanku dan kopinya yang masih berasap begitu saja.

Hanya karena uang, hubungan pertemananku yang sudah bertahun-tahun, retak begitu saja. Aku teringat sebuah perkataan dari seseorang, yang intinya mengatakan bahwa uang bisa menciptakan kawan, namun juga bisa menciptakan lawan. Aku tak ingin terlalu ambil pusing. Setelah kopiku habis, aku membayar dan melangkah begitu saja meniggalkan warung.

Kembali seperti waktu pagi, aku berdiri dengan posisi satu tangan memegang pegangan yang menggantung. Bedanya, waktu sore tak sepadat ketika pagi di jam kerja. Tak perlu berdesak-desakan. Ibu hamil tak perlu berdiri pasrah. Dan untungnya, tak ada pria angkuh berjas hitam, atau yang serupa dengannya. Aku kembali membaca kindle dengan mata yang mulai berat. Sesekali aku memejamkan mata. Hingga tak terasa, kereta pun berhenti di tujuan.

Hujan tipis mulai turun, jalanan basah berkilau tertimpa lampu-lampu kota. Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Arman masih terngiang di kepalaku: tentang balas budi, tentang pengorbanan, tentang betapa berhutangnya aku padanya.

Sampai di apartemen, aku segera menutup pintu. Sunyi langsung menelan seluruh ruangan, hanya suara AC berdengung pelan. Aku meletakkan tas, membuka kemeja kusut, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa. Rasanya seluruh energi tersedot habis.

Baru saja aku ingin memejamkan mata, ponselku bergetar keras di atas meja. Nama Rangga muncul, berulang-ulang. Kupandangi sebentar, lalu kuabaikan. Namun getaran itu tak berhenti. Setelah panggilan ketiga, aku angkat dengan nada malas.

“Iya?.”

Suara di seberang terburu-buru. “Mas, tolong banget! Besok ada presentasi, aku diminta bikin data tambahan. Aku nggak bisa sendiri. Bisa bantu kan, Mas?”

Aku memijit pelipis. Wajah Rangga yang penuh cemas sudah bisa kubayangkan, sama seperti siang tadi. Sama seperti berulang-ulang sebelumnya.

“Sorry, aku nggak bisa” suaraku pelan, hampir seperti bisikan.

Hening sesaat, lalu terdengar suaranya meninggi. “Lho, Mas! Jangan gitu dong. Kalau aku gagal, bos bisa marah besar. Nanti aku disalahin. Mas, tolong, ya. plisss.”

Aku menarik napas panjang, menatap langit-langit putih apartemen. Di kepalaku, suara-suara lama bermunculan: suara orang-orang yang dulu pernah kubantu, lalu meninggalkanku begitu saja. Arman, Rangga, Dan entah siapa lagi setelah mereka.

“Nggak.” Kali ini aku lebih tegas. “Itu tugasmu. Kamu yang harus selesaikan. Aku sudah terlalu sering menolong, sampai lupa kalau aku juga butuh waktu buat diriku sendiri. Jadi, sorry. Aku nggak bisa.”

Suara di seberang berubah menjadi nada kecewa, hampir marah. “Wah, Mas egois banget. Aku kira Mas orangnya bed-”

Aku langsung menutup panggilan.

Tanganku sedikit gemetar. Ada rasa bersalah, ada ketakutan yang tiba-tiba melanda. Besok mungkin Rangga benar-benar akan dimarahi bos. Mungkin aku akan dianggap tidak peduli, bahkan dikhianati oleh teman sendiri. Aku khawatir, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa lebih lega.

Aku mematikan lampu ruang tamu, menyisakan cahaya samar dari balkon. Dari balik kaca jendela, kulihat hujan makin deras, mengguyur kota dengan gemuruhnya.

Malam itu aku sadar, keberanian menolak memang membawa risiko, tapi juga memberi sesuatu yang lebih besar, yaitu ruang untuk bernapas, ruang untuk hidup tanpa selalu dikendalikan oleh ego orang lain.

Aku tersenyum tipis. Mungkin benar, dunia penuh dengan ego. Tapi malam ini, akhirnya aku memilih egoku sendiri.




Post a Comment for "Harus Iya"