Nasi Lauk Do'a



Jika ditanya soal "Masakan siapa yang paling enak?" Mayoritas orang akan menjawab "Ibu", "Mama", "Emak", "Bunda", "Ummi", apapun itu panggilannya. Aku sangat setuju dengan jawaban itu. Dikala perut keroncongan, masakan ibu kerap menjadi penyelamat rasa laparku. Ia memasaknya dengan penuh kasih sayang, memberikan kenikmatan yang luar biasa, bahkan pada makanan yang sangat sederhana sekalipun.

Ngomong-ngomong soal makanan sederhana, aku teringat kehidupanku di masa lalu, sekitar 23 tahun yang lalu. Dulu, aku tinggal di pelosok desa, yang sangat jauh dari keramaian kota. Di dapur yang masih beralaskan tanah, Ibu menyuapiku dengan nasi, sayur bayam dan ikan asin. Kadang tahu tempe dan telur ayam. Senyum ibu lebar tiap kali aku membuka mulut. Terkadang, mulutnya bergerak seperti tengah berucap tanpa suara, ketika tengah menyiapkan suapan selanjutnya.

"Belajar yang tekun ya, nak, biar ilmu yang kamu pelajari bermanfaat." ucap ibu dengan lembut. Aku hanya mengangguk sambil terus mengunyah.

Tiap berangkat sekolah, aku harus berjalan kaki menyebrangi sungai dangkal tanpa jembatan, dan juga melewati perkebunan. Bersama beberapa teman yang senasib, kami sudah terbiasa belajar di kelas dalam keadaan seragam yang kotor, dan celana atau rok yang basah oleh aliran sungai. Terkadang, aku iri dengan beberapa teman sekelas yang bahkan mereka tak perlu melangkah untuk sampai ke sekolah, ataupun ke rumah.

"Kasihan banget sih, kamu," ucap Adit, matanya menyipit dengan senyuman yang membuatku sedikit jengkel.

"Kasihan kenapa?" tanya salah satu temanku yang bernama Ratna.

"Kalian nggak punya mobil. Papaku aja punya."

Aku hanya diam, sembari menahan tangan Ratna yang kemungkinan akan memukul bocah gendut itu. Terlihat dari wajahnya yang memerah.

Di rumah, aku biasanya membantu ibu memetik beberapa sayuran untuk dimasak. Kata ibu, agar bisa lebih hemat. Aku juga diajari memasak, dari sesederhana merebus telur, hingga membuat bubur nasi yang lembut ketika lauk dan sayur sudah habis.

Setiap sore menjelang malam, siaran di radio mengisi keheningan. Di luar sangat sepi, hanya ada beberapa warga yang berlalu-lalang sepulang dari masjid. Kami makan sambil menyimak siaran yang aku sendiri sudah lupa membahas tentang apa. Seperti biasa, ibu makan sambil juga menyuapiku, tak lupa bibirnya yang sesekali bergerak, dan aku masih belum paham kenapa ibu melakukan itu.

Hingga pada suatu hari, saat ibu tengah menyuapiku, aku mengungkapkan pertanyaan yang selama ini kusimpan.

"Ibu, kenapa mulut ibu selalu bergerak ketika lagi nyuapin aku?"

"Ibu berdo'a nak, supaya makanannya berkah." jawabnya dengan nada lembut.

Sebagai bocah yang masih berumur sekitar 4 tahun, aku hanya mengangguk tanpa sepenuhnya memahami.

Tahun demi tahun berlalu. Hidupku dan ibu kian lebih ringan. Sebelumnya, Ibu harus mengurus sebuah kebun milik seorang juragan kaya, bersama para petani lainnya. Ia membesarkanku dengan jerih payahnya sebagai seorang petani. Merawatku seorang diri tanpa sosok suami. Kata ibu, Bapak meninggal sebulan setelah aku lahir. Motornya ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang kemudian mengalami rem blong.

Dengan tabungan yang telah kami kumpulkan sejak lama, kini aku membuka sebuah usaha kecil. Menjual donat keliling. Setiap hari, sepulang sekolah aku harus menyiapkan bahan-bahannya, lalu aku dan ibu akan mengolah adonan hingga siap digoreng dan matang. Kami melakukannya di pagi buta, bahkan sebelum ayam berkokok.

Waktu berlalu, tanganku semakin lihai menguleni donat. Aku memberi varian topping sesuai permintaan tetangga, juga teman-teman sekolahku yang menjadi pelanggan setia. Terkadang, salah satu temanku berbaik hati meminjamkan ponselnya untuk menunjukkan tutorial membuat adonan hingga menghasilkan donat yang mengembang sempurna, juga memiliki tekstur yang lembut. Aku mengangguk, mataku menatap tajam memperhatikan step by step yang dilakukan oleh seseorang yang tak kukenal di video tersebut.

Sama seperti dulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, hari ini seseorang meledekku dengan kata-kata yang cukup membuatku kehilangan kata-kata di kepalaku.

"Orang seperti kamu nggak akan sukses. Kata papaku, kalau pingin sukses itu harus menjadi pegawai kantor. Kayak papaku tuh, punya mobil. Kamu sampai sekarang masih nggak punya, kan?"

Bocah gendut berkacamata itu masih saja menunjukkan sikap busuknya. Iya, namanya Adit. Anak itu masih satu kelas denganku hingga SMP. Kukira anak papa itu akan melanjutkan sekolah di luar negeri, atau entah di mana.

Di samping anak papa itu yang masih sibuk yapping, aku fokus menata donat dengan sumpit makanan. Karena tak tahan dengan suaranya, aku memutuskan untuk meninggalkannya, dan berkeliling menawarkan donat kepada anak-anak lainnya, bahkan para guru. Mereka bilang, aku pekerja keras. Namun bagiku, ini hal yang biasa, mengingat bahwa aku sudah terbiasa hidup susah.

Waktu kembali berlalu, aku meninggalkan desa ini bersama ibu, dan memulai hidup baru di kota terdekat. Sekitar 2 jam dari rumah. Sebelum keputusan ini kuambil, seseorang mendatangi rumah kami, membeli beberapa donat. Ia sangat menyukai donat itu. Lalu, ia menawarkan sebuah ruko miliknya untuk kami jadikan tempat berjualan donat yang lebih proper. Tak perlu lagi harus berkeliling membawa wadah berisi puluhan donat. Lantaran aku masih harus melanjutkan sekolah SMA, Ibu dengan senang hati mau menghandle usaha donat yang baru memiliki rumah baru ini. Dengan kesepakatan yang disetujui oleh kami dan pemilik ruko, bisnis ini berjalan dengan sangat lancar. Hingga apa yang dulu hanya menjadi sebuah khayalan yang nyaris tak sampai, kini bisa kugapai dengan cukup mudah.

Di waktu malam, aku bersama ibu tengah menonton televisi sambil menyantap sepiring donat. Kali ini, aku merasakan bagaimana rasanya menyuapi. Hatiku terasa ringan ketika Ibu membuka mulut dan memberi satu gigitan besar dengan sedikit tawa. Saat itu, tanpa kusadari bibirku bergerak, persis seperti yang dulu ibu lakukan tiap kali menyuapiku.

Aku senang, namun juga sedih di waktu yang bersamaan. Tak tahu kenapa. Sekarang, Ibu tak perlu lagi berjalan di bawah terik dengan membawa cangkul. Tak perlu lagi menakar apakah beras hari ini masih cukup untuk esok hari. Tak perlu lagi menghangatkan sisa lauk kemarin. Tak perlu lagi menanam dan memetik sayuran di belakang rumah. Bahkan, aku sempat membayangkan apakah si gendut berkacamata itu akan mengulangi perkataan yang sama padaku, mengenai mobil papanya?


Post a Comment for "Nasi Lauk Do'a"